Varian Baru Covid-19 Harus Diwaspadai

oleh: Redaksi 13 x dilihat
mitsubishi mpv expander
banner 468x60

 

 

Jakarta,

Varian baru virus corona Inggris, atau yang disebut virus Kent – B.1.1.7 – sudah masuk Indonesia. Di negara-negara lain, varian baru Covid-19 terus bermunculan. Seperti varian yang diduga memicu lonjakan kasus di wilayah Amazon Brasil muncul di Minnesota.

Kemudian varian virus corona yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan sudah muncul di Carolina Selatan dan Maryland. Maraknya varian baru yang terus bermunculan di banyak negara bukan hal yang mengejutkan bagi para ilmuwan.

Bagaimanapun, semua jenis virus termasuk corona SARS-CoV-2 selalu berubah dan berkembang. Ditambah lagi, penyebaran virus yang tidak terkendali di seluruuh dunia membuat virus memiliki banyak kesempatan untuk terus bermutasi.

Setidaknya ada empat varian baru yang sangat mengkhawatirkan bila masuk ke Indonesia.  Ini Macam Varian Covid-19 “Varian yang telah diidentifikasi baru-baru ini tampaknya menyebar dengan lebih mudah. Varian tersebut lebih mudah menular, yang dapat menyebabkan peningkatan jumlah kasus, dan peningkatan tekanan pada sistem kesehatan yang sudah kelebihan beban,” ujar Dr. Rochelle Walensky, direktur baru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), dilansir CNN Kamis (11/2/2021).

Hal yang paling ditakuti oleh para ilmuwan adalah virus akan bermutasi hingga menyebabkan penyakit yang lebih parah, melewati kemampuan tes untuk mendeteksi, atau vaksinasi tidak bisa memberi perlindungan. Sementara beberapa varian baru tampaknya memiliki perubahan yang memengaruhi respons imun, itu hanya berbeda sedikit.

Daftar pertama varian baru yang paling mengkhawtirkan bagi peneliti AS adalah varian B.1.1.7 yang pertama kali dikonfirmasi di Inggris. Adanya varian B.1.1.7 yang masuk Indonesia juga membuat masyarakat khawatir. Terutama karena virus ini disebut lebih mudah menular.

 

Kendati demikian, para ilmuwan mengatakan dengan yakin bahwa sistem kekebalan kita masih dapat menangani varian yang bermunculan saat ini, terutama B.1.1.7. “Sejauh yang kami tahu, transmisi atau penularan virus terjadi dengan cara yang persis sama seperti sebelumnya,” ucap Gregory Armstrong yang memimpin kantor deteksi molekuler lanjutan di CDC kepada CNN.

Itu artinya, tindakan pencegahan untuk mengurangi penyebaran varian baru B.1.1.7 sama seperti sebelumnya. Tetap galakkan dan lakukan 5M, yakni: Memakai masker Menjaga jarak 1-2 meter Mencuci tangan dengan sabun Menghindari kerumunan atau keramaian Mengurangi mobilitas Kendati cara penularan varian B.1.1.7 sama, tapi mutasi pada varian ini membantu memasuki sel manusia dengan lebih mudah.

Berarti, jika seseorang menghirup udara yang mengandung partikel virus di dalamnya, partikel itu akan lebih mungkin menginfeksi beberapa sel di sinus atau hidung, dan akhirnya masuk ke paru-paru. Perubahan yang mengkhawatirkan dari varian B.1.1.7 adalah lonjakan protein spike yang ada pada permukaan virus (berupa paku-paku di permukaan dan menjadi pintu masuk virus ke sel) lebih mudah menempel di sel.

Inilah yang membuat orang lebih mungkin terinfeksi saat terpapar virus corona SARS-CoV-2 dengan varian B.1.1.7. Oleh sebab itu, kita semua perlu lebih keras untuk mencegah penyebaran dengan terus menerapkan protokol kesehatan 5M sembari menunggu vaksinasi. “Untuk menghentikan transmisi, kita memerlukan kecepatan yang lebih tinggi dari apa yang kita lakukan untuk memperlambat transmisi,” kata Armstrong.

Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Gejala Mirip Varian Asli 2. Varian B.1.351 Varian yang pertama kali terlihat di Afrika Selatan dikenal sebagai B.1.351 atau 501Y.V2. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), varian ini sudah menyebar ke lebih 30 negara lain. “Varian yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan telah menyebar dengan cepat ke luar Afrika. Dan apa yang membuat saya terjaga di malam hari saat ini adalah kemungkinan besar (varian B.1.351) beredar di sejumlah negara Afrika,” Dr. Matshidiso Moeti, direktur regional WHO untuk Afrika. Varian B.1.351 memiliki pola mutasi berbeda yang menyebabkan lebih banyak perubahan fisik pada struktur protein lonjakan (spike protein) daripada yang terjadi pada varian B.1.1.7. (Kompas)