Kontroversi Pengelolaan WC di Kawasan Danau Toba

oleh: Redaksi 41 x dilihat
mitsubishi mpv expander
banner 468x60

Parapat, SDT

Penjelasan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan perihal pengelolaan toilet (WC) untuk kawasan Danau Toba, pada laman instagramnya, pekan lalu, menuai kontroversi di media sosial. Banyak pihak yang menilai kebijakan memberi pengelolaan toilet kepada perusahaan asal Swis yang bernama Mister Loo terlalu berlebihan. Seolah masyarakat di Kawasan Danau Toba, tidak mampu hanya untuk mengurusi toilet.

Pada hal tujuan Luhut Panjaitan mengundang pengelolaan toilet kepada perusahaan yang tersohor karena kebersihan dan kenyamanannya itu, adalah untuk mengangkat kepariwisataan Kawasan Danau Toba lebih mendunia. Sebab bukan rahasia lagi selama ini, masalah toilet termasuk yang dikeluhkan wisatawan yang berkunjung ke lokasi/obyek wisata.

Mister Loo merupakan perusahaan berskala besar asal Swiss yang bergerak di bidang sanitary toilet umum premium. Luhut menyebut, hingga kini ada sekitar 25 toilet umum yang sudah dibangun sebagai hasil CSR (corporate social responsibility/CSR) perusahaan. Pengelolaan setelahnya diserahkan kepada Mister Loo.

“Ada 25 toilet yang dibangun di spot-spot turis di Toba, ini CSR dari beberapa perusahaan. Dan sekarang kita kontrakkan kepada namanya Mister Loo, yang punya organisasi secara internasional ngurus WC,” kata Luhut.

Kalau ingin melakukan lompatan agar pariwisata Danau Toba berkelas dunia, selayaknya kebijakan seperti itu tidak perlu diperdebatkan. Sebab kebijakan yang dilakukan Menko Luhut Panjaitan itu diyakini sudah berdasarkan kajian yang serius. Karenanya sangat layak diapresiasi.

“Toilet “Mister Loo” termasyhur sangat wangi, bersih, sehat, nyaman, dan aman. Para turis tidak rugi bayar 5 sampai 10 ribu rupiah untuk sekali pakai toilet ini. Mantap keren ”

Tulis Toras Sotarduga Panggabean di laman FBnya.

Luhut menyebut, toilet-toilet itu tersebar di beberapa kawasan proyek yang saat ini masih tahap pembangunan . antara lain di Dermaga Porsea, Dermaga Balige, Dolok Sipiak, dan Huta Siallagan Pulau Samosir. Lebih lanjut dia menuturkan, Dolok Sipiak adalah tempat yang belum lama ini dikunjungi oleh Raja dan Ratu Belanda. Sementara Huta Siallagan Pulau Samosir adalah tempat peradilan dan pemancungan pada masa lampau yang belum lama dikunjungi oleh Presiden Jokowi.

“Presiden waktu itu berkunjung ke sana dan kebetulan saya ikut, dan presiden minta itu dikembalikan kepada aslinya. PUPR sudah mengerjakannya dan kemarin sudah selesai mungkin 70 persen. Kalau itu jadi saya kira akan sangat cantik, bisa melihat pemandangan dan ada toiletnya,” jelas Luhut. Dia berharap, toilet-toilet tersebut dapat berfungsi seiring dengan selesainya pembangunan di titik-titik proyek pemerintah yang sudah rampung sebagian itu. “WC itu penting karena di tempat-tempat spot turis kalau enggak ada WC, enggak ada air, tidak ada gunanya. Nah airnya kita ambil, kita bikin sumur, tarik ke atas sehingga itu berjalan. Kita berharap 25 toilet ini harus bersamaan selesainya nanti dengan semua, dari dermaga Porsea, Balige, dan sebagainya,” pungkasnya (Toba-1/Kps).