Bang Muchtar, Buruhnya Menghianat !

oleh: Redaksi 42 x dilihat
mitsubishi mpv expander
banner 468x60
Catatan : Doan Dohardo Harianja

Namanya sudah sering kudengar semenjak tahun 1989 sebagai aktivis, untuk mendampingi petani, buruh dan nelayan. Namun semakin mencuat setelah bersama sejumlah tokoh kritis masa itu, mendirikan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia tahun 1992 dan dipercaya menjadi Ketua Umum. Pada hal masa itu setiap organisasi kemasyarakatan dan profesi, harus bisa dikendalikan atau paling tidakk “pendukung” rezim Orde Baru.

Kehadirannya di organisasi serikat buruh menjadi perhatian penguasa. Ia bahkan dicurigai dan diberi stigma “orang komunis”. Tujuannya tentu saja agar pendukungnya “ciut” mengingat saat itu stigma anggota atau simpatisan PKI adalah petaka.

Untuk membela kepentingan petani dan buruh Muchtar Pakpahan, pertama sekali masuk penjara tahun 1994 di Semarang. Sebelumnya ia sudah beberapa kali ditangkap dan diinterogasi oleh pihak keamanan dengan tuduhan “beragam”. Hidupnya memang teguh membela kaum papa. Sebab dia sendiri, berjuang keras untuk mengecam Pendidikan tinggi di FH USU, dengan menarik becak dayung.

Dalam pergerakannya, akhirnya ia selalu diikuti pihak intelijen negara. Seperti pernah dia kisahkan dalam pertemuan yang pernah saya ikuti, dalam membahas internal SBSI saja selalu ada pihak eksternal yang mengetahuinya. Tetapi sebaliknya, oknum aparat yang memantaunya, ada juga yang berempati kepadanya, meskipun terlihat “garang” dihadapan rekan-rekannya.

Peristiwa unjuk rasa buruh di Medan tahun 1994 juga menghantarkannya masuk penjara Bersama beberapa fungsionaris SBSI dan LSM lainnya. Muchtar Pakpahan (sering dipanggil, MP) secara terbuka menyebut, pihaknya sebagai orang yang bertanggungjawab atas peristiwa itu. Ia meminta pihak kepolisian dan keamanan, untuk melepaskan para buruh pengunjukrasa.

Ketika dilaksanakan persidangan-persidangan peristiwa ini di Pengadilan Negeri Medan, saya meminta senior saya  wartawan SIB, Alm Cornelius Simanjorang mempertemukan saya dengan MP. Tidak bisa lama kami bicara di ruang tahan PN Medan. Selain bersesak dengan tahanan dan pengunjung, pihak keamanan/kejaksaan juga ekstra ketat, sebab kasus yang didakwakan kepada MP menjadi perhatian yang ekstra juga oleh penguasa. Saya hanya bisa beri semangat. Dan saya katakan kepada MP, perjuangannya tidak akan sia-sia dan akan dinikmati seluruh buruh di Indonesia. . “Terimakasih dukunganmu, doakan saya kuat”, jawabnya dan kami pun bersalaman.

Seusai menjalani hukuman atas peristiwa unjuk rasa di Medan, MP juga Kembali ditangkap dan diadili di Jakarta. Kali ini kasus yang dituduhkan kepadanya lebih berat, yakni; subversif. Buku karya ilmiah (disertasinya) berjudul “Potret Negara Indonesia” dinilai penguasa sebagai ajakan melakukan revolusi. Ia pun dimasukkan dalam penjara di LP Cipinang dengan ancaman hukuman seumur hidup.

Tumbangnya Orde Baru, menjadi lembaran bahagia bagi MP. Oleh Presiden HB Habibie awal 1999, sejumlah tahanan politik diberi amnesti termasuk di dalamnya MP. Sebagai Ketua Umum SBSI, MP langsung konsolidasi organisasi. Euforia kebebasan berserikat dan mendirikan partai politik masa itu, menjadikan SBSI merekomendasikan pendirian partai; Partai Buruh Nasional (PBN)

Atas informasi ini dan undangan bergabung, saya dan beberapa teman di Medan/Sumut menghadiri deklarasi PBN di Jakarta. Seusai deklarasi, esoknya mengadakan Munas Perdana, menetapkan AD/ARD, memilih Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal serta fungsionaris lainnya, menetapkan program kerja serta persiapan Pemilu 1999 (multi partai/47). Tohap Simanungkalit berdasarkan hasil Munas terpilih menjadi Ketua Umum PBN. Ada beberapa orang kami mendapat mandat, pembentukan DPD-DPC PBN Sumut, antara lain Januari Siregar, Sihar Cibro, saya dan lainnya.

Januari Siregar menjadi Ketua DPD PBN Sumut serta saya dan Sihar Cibro; ketua dan sekretaris DPC PBN Medan. Kemudian di tengah maraknya partai-partai baru (sebanyak 47 yang lolos verifikasi) kami berhasil menjalankan mandate pembentukan 17 DPC  (sebelum pemekaran) di Sumut.

Sehari setelah Pemilu 1999, saya melaporkan hasil perhitungan sementara via seluler  kepada MP sebagai Ketua Dewan Pertimbangan PBN. Bahwa hasil perolehan PBN Kota Medan sangat mengecewakan. Lalu beliau bertanya, kenapa begitu ? Spontar saya menjawab, “Buruhnya, menghianat bang”. Dalam percakapan itu pun dia menyampaikan keprihatinannya. Sebab beberapa daerah juga melaporkan hasil yang sama.

Saya spontan menyebut “menghianat” benar-benar spontan. Perolehan suara PBN di kawasan industri sangat jauh di luar ekspektasi. Sebenarnya, setelah ditelaah secara benar, banyak faktor penyebab kurangnya pemilih PBN. Salah satunya barangkali adalah, kekurangsiapan PBN konsolidasi dan Caleg yang kurang memadai di mata buruh.

Terlepas dari ketidak-cakapan kami caleg masa itu, tetetapi kami PBN Medan juga mengalami sesuatu yang kurang berkenan atas sikap para buruh. Pada masa kampanye 1999 itu, ada sebuah pabrik besar di Belawan yang melakukan unjukrasa kepada manajemen, untuk menuntuk hak-hak normatif dan kesejahteraannya yang layak. Atas inisiatif kawan-kawan SBSI, kami dari PBN hadir mendukung tuntutan buruh. Selain berorasi kami juga memberi solusi menguatkan buruh menuntut hak-haknya berdasarkan aturan perundang-undangan.

Berkat dukungan PBN, semangat berjuang para buruh pun membara. Akhirnnya manajemen mengajak bernegoisasi. Lalu dibuat kesepakatan bipartite. Tuntutan hak normative mutlak diterima, tuntutan kesejahteraan layak lainnya segera dikaji manajemen, misalnya fooding untuk shif malam. Unjukrasa pun selesai, Buruh bekerja seperti biasa.

Kenyataan pas hari pemilihan, suara PBN di kawasam pemukiman para buruh hanya 3 suara. Itu pasti saja dari seorang panitia pemungutan suara (dulu utusan partai) dan dua orang saksi. Buruh itu ternyata memilih partai lain. Sedih tetapi geli. Inilah barangkali membuat saya spontan menyebut kepada MP, buruhnya menghianat. Pada hal buruh di pabrik itu seribuan orang.

Setelah penetapan calon dan pelantikan DPRD Medan, kesepakatan manajemen dan para buruh akhirnya dibatalkan sebagian. Hanya tuntunan normative yang diloloskan. Buruh yang ingin Kembali berunjukrasa langsung ditertibkan. Satgas sebuah partai politik akhirnya melakukan penjagaan kepada pabrik. Pentolah buruh yang mengajak untuk rasa langsung digebuk. Kepada rekan-rekan SBSI, para buruh menyesal memilih partai yang menjadi bagian dari pengamanan pabrik. Saya pun katakana kepada mereka, buruh yang harus menyelesaikan masalah buruh. Jangan berikan perjuangan politikmu kepada pihak yang tidak memahami masalah buruh.

MP tidak puas dengan hasil Pemilu 1999. Ia menyadari kebijakan politik akan lebih efektif mensejahterakan buruh. Maka untuk Pemilu 2004, MP mempersiapkan PBSD (Partai Buruh Sosial Demokrat). Ia langsung menjadi Ketua Umum. Segala jabatan yang berkaitan dengan SBSI dan ILO, ia tanggalkan. Saya tetap dia hunjuk Bersama rekan lainnya sebagai formatur pembentukan PBSD Sumut. Tetapi setelah usai tugas formatur, saya pamit kepada beliau untuk tidak masuk dalam kepengurusan. Beliau juga mengerti alasan saya.

Tetapi dalam perjalanannya PBSD juga tidak berhasil mendulang suara. Tidak lolos parlemen thresehold. Sementara SBSI yang harus ditinggalkannya, juga menjadi terpecah. Ketidaksepahaman di tubuh SBSI tidak bisa diselesaikan secara internal. Jalur hukumlah yang menyelesaikan. Pentolan SBSI juga membentuk organisasi sendiri.

Melihat kondisi SBSI yang demikian, akhirnya dia Kembali turun gunung. Ia kembali memimpin SBSI, dengan mendeklarisikan Konfederasi SBSI.  Sampai akhir hayatnya, Minggu 21 Maret 2021, MP masih menjabat Ketua Umum K-SBSI.

Selamat jalan pejuang buruh. Legacymu akan tetap dikenang. Engkau salah seorang warga republic ini yang telah mendunia memperjuangkan hak dan nasib buruh, petani dan nelayan.